Rabu, 26 September 2012

CURHAT USTADZ



Sebelumnya penulis memohon maaf dalam penulisan artikel ini, digunakan bahasa yang tidak baku (sesuai EYD) tapi sedikit santai.
Di saat ini orang bilang jaman sekarang sudah jaman edan. Banyak hal-al yang dulunya tidak mungkin sekarang menjadi mungkin. Dengan berkembangnya dunia informasi segala hal akan dengan mudah untuk diketahui. 
Meskipun secara hakikatnya kita tidak boleh mencaci waktu, karena waktu berjalan sudah sesuai dengan ketetapan yang ALLOH tentukan, mencacinya berarti telah mencaci yang memilikinya. 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ بِيَدِي الْأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
Dari Abu Hurairah berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah Ta'ala berfirman: 'Anak adam menyakiti-Ku dan mencela masa, padahal Aku adalah masa, di tangan-Ku lah segala urusan, Akulah yang membolak-balikkan siang dan malam'."

Tapi itulah kenyataan sekarang bila melihat situasi dan kondisi memang sudah begitu kacau. Bencana, huru-hara, kasuskkasus kriminal, aliran sesat, teroris, kekacauan di jalur birokrasi kepemerintahan yang tiada ujungnya, dunia kependidikan, lapangan pekerjaan, perekonomian, dan banyak lagi yang bila ditulis daftarnya mungkin akan begitu banyak dan panjang. Semua merasa bingung bagaimana menghadapinya sehingga yang timbul kebanyakan bukan mencari solusi penyelesaian tapi malah mencari hal yang menyebabkannya dan ujung-ujungnya saling tuduh dan menyalahkan.
Lalu bagaimana Islam menyikapinya ? Sebenarnya semua permasalahan ini hanya bisa dikembalikan pada Islam saja. Saat ini kebanyakan manusia sudah meninggalkan sisi keagamaannya karena sudah begitu disibukkan dengan urusan-urusan keduniaan yang dijadikan harga mati untuk mencapai kebahagiaannya. 

Saya kira cukuplah awal pembicaraan masalah di atas sampai di sini, nanti malah jadi melebar dan tidak fokus dengan yang akan saya tulis. Inti dari tulisan ini hanya akan membahas pada struktur terkecil dari semua pokok permasalahan di atas, yaitu "keluarga".

Suatu hari saat saya sedang bersama teman kerja saya, dia itu mempunyai aktifitas lain selain bekerja, dia dan istrinya mempunyai beberapa jenis usaha, salah satunya grosir semisal sembako, selain itu dia juga sebagai pengajar Tahsin, dan kegiatan keagamaan lainnya sebagai pemateri. Dan dia juga mengisi sebuah pengajian rutin di tempat kerja kami.

Saya begitu kagum pada teman saya ini, dia begitu mampu membagi waktunya dalam semua kesibukannya. Pada awalnya dia menimba ilmu Islam ke sana kemari, ditemuinya banyak guru, dia jadi santri yang tidak mukim dan tidak terikat. Namun subhanallah, karena ALLOH mengkarunikan kecerdasan kepadanya, dia bisa melaluinya dengan baik, dan saat ini di sudah terjun di dunia dakwah sebagai pengaplikasian dari ilmu yang dia dapat, meskipun tetap dia ikut majelis guru-gurunya. Sebenarnya saya juga awalnya seperti dia, mungkin bisa dikatakan lebih dulu dari dia, tapi ternyata saya belum bisa mengambil hasil dari semua itu, mungkin karena taraf kecerdasan saya yang minim, tekad saya yang tidak kuat, dan lain sebabnya yang menjadikan saya sebagai orang awam saja.

Di setiap waktu luang, di sela-ela kami bekerja, sering terlibat banyak pembicaraan, baik itu tentang bisnis, kegiatannya, dan sebagainya, termasuk kegiatan pengajian rutin yang kami adakan di tempat kerja kami.
Dia berkata bahwa sekarang ini tantangan dakwah itu begitu banyak dan berat. Faktor utama yang sering dan banyak terjadi permasalahan ialah terjadi di keluarga-keluarga muslimin. 
Dia banyak mendapatkan banyak keluhan dan konsultasi / curhat- urhat dari para mustami dari setiap majelis ilmu yang dia terjuni. Dan hampir semuanya berkenaan dengan keluarga. Baik itu suami, istri, atau anak-anak. Semakin banyak ilmu yang dipahami semakin berat ujian yang dihadapi.

Dan memang ternyata fenomena saat ini, dari setiap kegiatan majelis taklim itu kebanyakan yang hadir ialah akhwat. Lalu ke mana para ikhwannya ? Sehingga kebanyakan dari persoalan-persoalan yang diterima para ustadz itu, ya dari para ibu-ibu yang curhat.
Dan mungkin sudah menjadi kebiasaan bahwa para ustadz itu selalu menjadi tempat curhatnya para ibu-ibu. Yang memang bila kita perhatikan justru malah bisa menimbulkan hal yang tidak diharapkan.
Di saat ustadz menjadi idola, sehingga sampai dianggap penyelesai segala masalah. Padahal ustadz juga manusia. 

Seperti yang teman saya alami, begitu banyak permasalahan yang dia terima dari mustami nya dari golongan akhwat. Meskipun sudah sering dia katakan bahwa tempat sebaik-baiknya untuk curhat hanyalah pada ALLOH saja, dan hal yang tidak baik bila seorang ustadz laki-laki menerima curhatan dari lawan jenis, dikhawatirkan terjadi fitnah.
Disamping itu tidak dibenarkan apabila laki-laki dan perempuan bukan mahram untuk berbicara baik secara langsung, melalui telepon, atau sms. Siapapun itu meskipun bergelar ustadz, meskipun dengan dalih bisa menjaga perasaan atau hawa nafsu. Tetapi lebih aman tidak, syetan selalu mencari celah dan cara untuk menjerumuskan.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah 5).

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram” (Qs Ar-Ra’du 28).

لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ
“Jangan sekali-kali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram.” (Muttafaq ‘alaih, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

Dan memang begitulah keadaan saat ini, syetan begitu gencar pula menebar tipu dayanya. Contohnya bila sebuah majelis ilmu, yang dilihat itu bukan isi keilmuan yang didalami, tapi malah sosok penyampainya (ustadz) yang menjadi patokan maka jangan harap ilmu itu akan sampai ke hati. Karena sosok pribadi yang utama yang jadi patokan, banyak menimbulkan efek yang negatif, seperti bila bukan oleh ustadz fulan maka jadi malas ikut taklimnya, ada yang menjadi pengagum berat sehingga menjadi idola dan dikultuskan, ada yang menjadi begitu simpatik yang bila dari lawan jenis menjadi menyukainya. Majelis taklim bubar karena ustadnya menikah lagi, ustadz saya yang paling benar, akhwat ingin menikah dengan ustadznya, ustadz terlalu "gaul", dsb. Banyak hal yang bisa terjadi bila segala sesuatu itu tidak pada tempatnya.

Begitupun teman saya, begitu banyak yang berkonsulatasi. Dan ternyata dari kebanyakan masalah itu berkenaan dengan hubungan suami istri, yang mana terjadi ketidak harmonisan dalam berumahtangga, yang dikarenakan oleh permasalahan yang ada dari kedua belah pihak, yang utamanya permasalahan datang dari suami. Dan ini merupakan permasalahan umum yang banyak dijumpai para pendakwah.
Ada yang tidak peduli, ada yang berselingkuh, berzina, menikah lagi diam-diam, perceraian, warisan, dan lain sebagainya. Pada umunya yang terjadi ialah perselingkuhan (istilah umumnya). 

Bila diteliti dari kebanyakan kasus tersebut ternyata kebanyakan para suami tersebut jauh dari kegiatan keagamaan, minimal ikut majelis taklim mingguan.
Sehingga kekurangan keilmuan agama seorang suami itu sangat berpengaruh pada pola kehidupannya termasuk kehidupan rumah tangganya. Makanya kenapa setiap majelis taklim itu sangat penuh oleh para ibu, lalu para bapaknya pada kemana ?
Oleh karena itu, inilah yang bisa menyebabkan timbulnya banyak permasalahan di rumahtangga, ketidakseimbangan antara masalah dan solusi.
Minimnya pemahaman keilmuan agama menyebabkan ketidaktepatan dalam setiap solusi yang diambil, dalam segala hal termasuk dalam menghadapi problem rumahtangga.
Belum lagi gelombang informasi dari dunia luar Islam yang begitu deras hampir setiap saat yang lebih dominan efek negatifnya yang banyak diterima, karena minimnya proteksi keimanan. 

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat". [An Nur : 19].

Terutama serangan pornogafi yang sulit untuk dibendung. Setiap orang bisa dengan begitu mudahnya mengakses dan mendapatkannya, apalagi didukung oleh teknologi yang begitu memudahkannya.
Seperti contoh salah satu kasus perselingkuhan/perzinahan seorang suami, ternyata pada umumnya kasus banyak didapati para suami yang bermasalah tersebut telah begitu akrab dengan pornogafi ini, baik dari gadgetnya (hp, ipad, dll), komputer, majalah yang dikonsumsinya, banyak ditemukan hal-hal tentang pornografi baik itu berupa gambar atau film. Sehingga akan dengan mudahnya para suami terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan dikarenakan tipisnya ilmu dan keimanannya. 
Namun semua hal ini bukan berarti semua permasalahan hanya timbul dari kaum laki-laki saja dari kaum perempuanpun banyak, tetapi dalam artikel ini yang sangat ditekankan dari sisi kaum laki-lakinya, karena para suami merupakan seorang pemimpin dari keluarganya, pemimpinnya baik maka insyaALLOH yang dipimpinnya akan baik juga. Suami itu bertanggunghawab dan penentu keluarganya dan generasinya apakah akan masuk ke surga atau neraka.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ 
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka". [An-Nisâ`:34]. 

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَ الأَمِيْرُ رَاعٍ وَ الرِّجَالُ رَاعٍ عَلى أَهْلِ بَيْتِهِ وَ المَرْأَةُ رَاعِيَّةٌ على بَيْتِ زَوْجِهَا
"Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya dan imam adalan pemimpin, dan orang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan wanita adalah penanggung jawab atas rumah suami dan anaknya. Dan setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya". [HR Bukhari].

Begitu getirnya bila kita renungi, sesak rasanya dada memperhatikan semua ini, yang saya lakukan hanya memohon dengan sebenar benarnya semoga ALLOH melindungi diri saya, keluarga saya dan keluarga kaum muslimin dari semua fitnah ini.

Bagaimana akan maju dan berkah suatu bangsa bila dari yang terkecilnya, keluarga, sudah banyak yang hancur. Bagaimana akan tercipta generasi penerus yang kuat dan beriman bila para ayahnya secara rohani sudah rusak. Naudzubillah tsumma naudzubillah.

Mari kita renungi, mengapa negri ini begitu banyak masalah yang dihadapi, yang bila disebutkan tidak akan selesai-selesai. Begitu sering ALLOH turunkan bencana. Mungkin karena diri-diri kita ini sudah jauh dari Islam sebagai panduan dan pedoman hidup ini.

"Artinya : Hai orang-orang Muhajirin; lima perkara, jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Alloh agar kamu tidak mendapatkannya :
- Tidaklah muncul perbuatan keji (seperti: bakhil, zina, minum khomr, judi, merampok dan lainnya) pada suatu masyarakat, sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang sebelum mereka. 
- Orang-orang tidak menahan zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan. 
- Tidaklah orang-orang mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan kezholiman pemerintah, kehidupan yang susah, dan paceklik. 
Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak menghukumi dengan kitab Alloh, dan memilih-milih sebagian apa yang Alloh turunkan, kecuali Alloh menjadikan permusuhan yang keras di antara mereka. [HR Ibnu Majah no. 4019, al Bazzar, al Baihaqi; dari Ibnu 'Umar. Dishohihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash-Shohihah no. 106, Shohih at-Targhib wat-Tarhib no. 764, Maktabah al Ma’arif][dari almanhaj.or.id]

Marilah kita semua mencoba memulai dari diri pribadi masing-masing untuk lebih merapatkan pemahaman kita kepada ilmu Islam yang haq. Mendalami Al Quran setiap saat, minimal membacanya. Mari kita mulai mengamalkan sedikit demi sedikit sunnah-sunnah yang Rasul dengan pemahaman keilmuan yang benar. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu: ‘Berilah kelapangan dalam majelis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al-Mujaadilah : 11]

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ
"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Seusngguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan". [Al Hajj : 40-41]

Semoga ALLOH menjadikan generasi kita sebagai generasi penegak syari'at ALLOH. Amin. Mohon maaf bila ada tulisan yang tidak berkenan dan tidak pada tempatnya. Wallahu'alam. [Abu Muazzam]