Kamis, 26 Desember 2013

BEBERAPA KEMUNGKARAN DI AKHIR TAHUN

Allah Subhânahû Wa Ta’âlâ telah menganugerahkan nikmat yang sangat besar kepada umat Islam sebagaimana firman-Nya,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku kepada kalian, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agama kalian.” [Al-Mâ`idah: 3]

Dari kesempurnaan nikmat-Nya, Allah Subhânahû Wa Ta’âlâ tidaklah meridhai, kecuali agama Islam,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari (agama) selain agama Islam, sekali-kali tidaklah (agama itu) akan diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” [Âli ‘Imrân: 85]

Oleh karena itu, kewajiban seorang muslim adalah menjaga diri di atas nikmat Islam yang agung ini sebagaimana perintah-Nya,

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Kemudian Kami menjadikan kamu berada di atas suatu syariat dari urusan (agama itu) maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” [Al-Jâtsiyah: 18]

Demikian pula firman-Nya,

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ. وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ
“Maka berpegang-teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al-Qur`an itu benar-benar merupakan suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu, serta kelak kamu akan dimintai pertanggungajawaban.” [Az-Zukhruf: 43-44]

Hendaknya seorang muslim senantiasa berbangga dengan agamanya,

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ
“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin.” [Al-Munâfiqûn: 8]

Allah Subhânahû Wa Ta’âlâ juga berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا
“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.” [Fâthir: 10]

Seorang muslim tidak diperbolehkan memandang orang-orang kafir dengan pandangan pengagungan dan pembesaran karena Allah ‘Azza Wa Jalla telah menghinakan mereka dengan kekafiran,

وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ
“Dan barangsiapa yang Allah hinakan, tiada seorang pun yang memuliakannya.” [Al-Hajj: 18]

Pun seorang muslim tidak diperkenankan untuk menatap kehidupan orang-orang yang penuh dengan kemegahan dan perhiasan dunia dengan tatapan kekaguman karena hal tersebut hanya kesenangan yang berakhir kepada neraka,

قُلْ تَمَتَّعُوا فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إِلَى النَّارِ
“Katakanlah, ‘Bersenang-senanglah kalian karena sesungguhnya tempat kembali kalian ialah neraka.’.” [Ibrâhîm: 30]

 Saudaraku seiman,

Pergantian tahun -sebagaimana halnya pergantian hari dan bulan- adalah suatu hal yang bermakna bagi seorang muslim dan muslimah. Waktu yang terus bergulir dan umur yang terus berkurang adalah renungan untuk memperbaiki lembaran-lembaran yang telah berlalu dan untuk menata masa mendatang. Allah Subhânahû Wa Ta’âlâ berfirman,

يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ
“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.” [An-Nûr: 44]

Untuk selalu meningkatkan perbaikan kepada-Nya.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ. الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadan berbaring serta memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Wahai Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami terhadap siksa neraka.” [Âli ‘Imrân: 190-191]

Namun, perlu diingat bahwa memperingati akhir tahun atau tahun baru tidaklah dikenal dalam Islam. Tidak dikenal pada tahun Hijriyah mereka, apalagi pada tahun Masehi orang-orang kafir.

Banyaknya kemungkaran pada akhir tahun mengharuskan adanya tulisan-tulisan seperti ini guna menasihati dan saling mengajak kepada jalan yang lurus.

Saudaraku seiman,

Allah ‘Azza Wa Jalla melarang kita untuk menyerupai orang-orang zhalim dari kalangan kuffar dan selainnya.

Allah Subhânahû Wa Ta’âlâ mengingatkan,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa terhadap Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” [Al-Hasyr: 19]

Kecondongan kepada mereka adalah suatu hal yang sangat berbahaya sebagaimana firman-Nya,

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zhalim yang mengakibatkan kalian disentuh oleh api neraka.” [Hûd: 113]

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, dia termasuk ke dalam kaum tersebut.” [1]

Juga dari Abu Sa’îd Al-Khudry radhiyallâhu ‘anhû, sesungguhnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى! قَالَ: فَمَنْ.
“Sungguh kalian betul-betul akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta hingga, andaikata mereka masuk ke lubang dhab[2], niscaya kalian akan mengikutinya,” Kami berkata, “Wahai Rasulullah, apakah mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nashara?” Beliau menjawab, “(Ya), siapa lagi (kalau bukan mereka)?” [3]

Larangan menyerupai orang-orang kafir adalah dalam segala hal, baik dalam perkara zhahir maupun batin. Adanya keserupaan pada hal yang zhahir menunjukkan kesamaan pada hal yang batin. Hal tersebut bukanlah sifat seorang Mukmin. Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, (tetapi) saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan (Allah) memasukkan mereka ke dalam surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalam (surga) itu. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun merasa puas akan (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah, merekalah golongan yang beruntung.” [Al-Mujâdilah: 22]

Allah Subhânahû Wa Ta’âlâ menegaskan pula,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin-pemimpin (kalian); yang sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kalian yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, sesungguhnya orang itu termasuk ke dalam golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidaklah memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim.” [Al-Mâ`idah: 51]

Berikut beberapa kemungkaran yang perlu diingatkan.

Pertama, keharaman merayakan hari Natal dan Tahun Baru.
Umat Islam tidaklah mengenal hari raya, kecuali tiga hari: Idul Fitri, Idul Adha, dan hari Jum’at. Perayaan hari raya, selain tiga hari raya ini, adalah bentuk penyerupaan terhadap kaum kuffar dan perkara baru dalam agama. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.
”Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak memiliki tuntunan dari kami, amalan itu tertolak.” [4]

Tidak ada silang pendapat di kalangan ulama akan keharaman hal di atas.

 Kedua, penetapan kalender dengan perhitungan Masehi.
Bagi umat Islam, telah berjalan di tengah mereka penetapan bulan berdasarkan ketetapan Islam. Allah Subhânahû Wa Ta’âlâ berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu.” [At-Taubah: 36]

Penyebutan nama-nama bulan telah masyhur dalam berbagai hadits Nabi. Demikian pula, umat Islam telah bersepakat bahwa penanggalan mereka berdasarkan pada hijrah Nabi sehingga mereka hanya mengenal Kalender Hijriyah.

Ketiga, berpartisipasi dalam hari raya mereka.

Imam Malik rahimahullâh berkata, “Hal yang kubenci (yaitu) ikut bersama mereka pada perahu yang mereka tumpangi, dalam rangka hari raya mereka, karena dikhawatirkan bila kemungkaran dan laknat terhadap mereka turun.” [5]

Ibnul Hajj rahimahullâh berkata, “Seorang muslim tidak halal menjual suatu apapun kepada orang Nashrani menyangkut keperluan hari raya mereka. Tidak daging, tikar, tidak pula pakaian. Juga tidak menimpahkan suatu apapun, walau hanya seekor kendaraan, karena hal tersebut tergolong membantu mereka di atas kekafirannya. Para penguasa memiliki kewajiban untuk melarang kaum muslimin dari hal tersebut.” [6]

Keempat, memberi hadiah atau ucapan selamat.

Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata, “Adapun memberi ucapan selamat kepada simbol-simbol khusus kekafiran, (hal tersebut ) adalah haram menurut kesepakatan (ulama) ….” [7]

Bahkan Abu Hafs Al-Hanafy rahimahullâh berlebihan dengan berkata, “Barangsiapa yang memberi hadiah telur kepada seorang musyrik untuk mengagungkan hari (raya mereka), sungguh dia telah kafir kepada Allah Ta’âlâ.” [8]

Kelima, berpakaian dengan pakaian mereka.

Telah sah dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam akan celaan terhadap memakai pakaian orang-orang kafir. Juga terhadap para perempuan, Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman,

وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah dahulu.” [Al-Ahzâb: 33]

Keenam, menerima hadiah dari perayaan mereka.

Syaikh Ibnu Bâz rahimahullâh dan Al-Lajnah Ad-Dâ`imah memfatwakan,

“Seorang muslim tidak boleh memakan (makanan) apapun yang dibuat oleh orang-orang Yahudi, Nashrani, atau musyrikin berupa makanan-makanan hari raya mereka. Seorang muslim juga tidak boleh menerima hadiah hari raya mereka karena (penerimaan) tersebut merupakan bentuk memuliakan mereka, tolong-menolong bersama mereka dalam menampakkan simbol-simbol mereka, dan melariskan bid’ah-bid’ah mereka, serta berserikat bersama mereka pada hari-hari raya mereka, yang terkadang hal tersebut menyeret (seorang muslim) untuk menjadikan hari-hari raya mereka sebagai hari raya kita atau, paling tidak, terjadi pertukaran undangan untuk mengambil makanan atau hadiah pada hari raya kita dan hari raya mereka. Hal ini merupakan bentuk-bentuk fitnah dan perbuatan bid’ah dalam agama.

Telah sah dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami hal yang bukan dari agama, hal tersebut tertolak.”

Juga tidak diperbolehkan untuk memberi hadiah kepada mereka perihal hari raya mereka.” [9]


Ketujuh, ikut andil dalam kemaksiatan dan kemungkaran. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيْهِمْ بِالْمَعَاصِيْ ثُمَّ يَقْدِرُوْنَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا ثُمَّ لاَ يُغَيِّرُوا إِلاَّ يُوْشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ.
“Tidaklah suatu kaum, yang diperbuat kemaksiatan-kemaksiatan di antara mereka, kemudian mereka sanggup mengubah hal itu, lantas mereka tidak mengubah hal tersebut, kecuali dikhawatirkan bahwa Allah akan menimpakan siksaan terhadap mereka semua secara umum.” [10]

Hendaknya setiap hamba bertakwa kepada Allah Subhânahû Wa Ta’âlâ serta menjaga diri dan keluarganya terhadap segala hal yang mendatangkan kemurkaan Allah ‘Azza Wa Jalla,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian terhadap api neraka.” [At-Tahrîm: 6]

Wallahu A’lam.


[1] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Abu Dawud, dan selainnya dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallâhu ‘anhû. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Irwâ`ul Ghalîl no. 1269.
[2] Dhabb adalah hewan yang mirip biawak, tetapi bukan biawak seperti sangkaan sebagian orang..
[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim.
[4] Diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ.
[5] Sebagaimana dalam Al-Luma’ Fi Al-Hawâdits wa Al-Bida’ 1/294 Karya At-Turkumâny melalui perantara makalah Nahyu Ahlil Islâm ‘An Tahni`ah Ahlil Kuffâr bi A’yâdihim.
[6] Sebagaimana dalam Fatawa Ibnu Hajar Al-Haitamy (Al-Fatâwâ Al-Fiqhiyah Al-Kubrâ) 4/329.
[7] Ahkâm Ahl Ad-Dzimmah 1/441.
[8] Fathul Bâry 3/263 cet. Dâr Thaibah
[9] Fatâwâ Al-Lajnah 22/399.
[10] Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, Ibnu Majah dan selainnya dari Abu Bakr radhiyallâhu ‘anhû. Dishahihkan oleh Albany dalam Ash-Shahih no. 1574, 3353.

sumber : http://dzulqarnain.net/beberapa-kemungkaran-di-akhir-tahun.html

Kamis, 05 Desember 2013

IBLIS SAJA MEYAKINI BAHWA AL-QUR’AN ADALAH KALAMULLAH


Syarh kitab Asy-Syari’ah karya Al-Imam Al-Aajurry rahimahullah
Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady Al-Madkhaly hafizhahullah

Al-Imam Al-Aajurry rahimahullah berkata:
 وَأَخْبَرَنَا أَبُوْ عَبْدِ اللهِ الْقَزْوِيْنِيُّ أَيْضًا، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عَبْدَكَ الْقَزْوِيْنِيُّ قَالَ: سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ يُوْسُفَ الزِّمِّيَّ، يَقُوْلُ: بَيْنَا أَنَا قَائِلٌ فِيْ بَعْضِ بُيُوْتِ خَانَاتِ مَرْوٍ فَإِذَا أَنَا
 بِهَوْلٍ عَظِيْمٍ، قَدْ دَخَلَ عَلَيَّ، فَقُلْتُ: مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ: لَيْسَ تَخَافُ يَا أَبَا زَكَرِيَّا؟ قَالَ قُلْتُ: فَنَعَمْ، مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ: وَقُمْتُ وَتَهَيَّأْتُ لِقِتَالِهِ، فَقَالَ: أنا أَبُوْ مُرَّةَ قَالَ: فَقُلْتُ: لَا حَيَّاكَ اللهُ،
 فَقَالَ: لَوْ عَلِمْتُ أَنَّكَ فِيْ هَذَا الْبَيْتِ لَمْ أَدْخُلْ، وَكُنْتُ أَنْزِلُ بَيْتًا آخَرَ، وَكَانَ هَذَا مَنْزِلِي حِينَ آتِي خُرَاسَانَ قَالَ: فَقُلْتُ: مِنْ أَيْنَ أَتَيْتَ؟ قَالَ: مِنَ الْعِرَاقِ قَالَ وَقُلْتُ: وَمَا عَمِلْتَ
 بِالْعِرَاقِ؟ قَالَ: خَلَّفْتُ فِيْهَا خَلِيْفَةً، قُلْتُ: وَمَنْ هُوَ؟ قَالَ: بِشْرٌ الْمِرِّيْسِيُّ، قُلْتُ: وَإِلَى مَا يَدْعُوْ؟ قَالَ: إِلَى خَلْقِ الْقُرْآنِ، قَالَ: وَآتِي خُرَاسَانَ فَأَخْلُفُ فِيْهَا خَلِيْفَةً أَيْضًا قَالَ: قُلْتُ:
 إِيشِ تَقُوْلُ فِيْ الْقُرْآنِ أَنْتَ؟ قَالَ: أَنَا وَإِنْ كُنْتُ شَيْطَانًا رَجِيْمًا أَقُولُ: الْقُرْآنُ كَلَامُ اللهِ غَيْرُ مَخْلُوْقٍ.
Telah mengabarkan juga kepada kami Abu Abdillah Al-Qazwainy: telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abdak Al-Qazwainy dia berkata: saya mendengar Yahya bin Yusuf Az-Zimmy bercerita: “Ketika saya sedang tidur siang di salah satu penginapan di kota Marwa, tiba-tiba ada seseorang yang masuk dalam bentuk yang menyeramkan. Maka saya bertanya: “Siapa engkau?”
Dia menjawab: “Engkau tidak takut kepadaku wahai Abu Zakariya?!”
Saya jawab: “Tidak, siapa engkau?” Saya bangkit untuk bersiap menyerangnya.
Maka dia menjawab: “Aku Abu Murrah.”
Saya membalas: “Semoga Allah tidak memberimu kehidupan.”
Dia berkata: “Seandainya aku tahu engkau berada di rumah ini, aku tidak akan masuk dan aku akan tinggal di rumah lain, dan ini adalah rumah yang biasa aku tinggali jika aku datang ke Khurasan.”
Saya bertanya: “Engkau datang dari mana?”
Dia menjawab: “Dari Iraq.”
Saya tanya lagi: “Apa yang engkau lakukan di Iraq?”
Dia menjawab: “Aku mengangkat seorang khalifah di sana.”
Saya tanya: “Siapa dia?”
Dia menjawab: Bisyr Al-Mirrissy.”
Saya tanya: “Apa yang dia dakwahkan?”
Dia menjawab: “Meyakini bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, dan aku akan pergi ke Khurasan untuk mengangkat seorang khalifah di sana juga.”
Saya tanya lagi: “Kalau kamu sendiri apa keyakinanmu terhadap Al-Qur’an.”
Dia menjawab: “Walaupun aku adalah syetan yang terkutuk, aku meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah dan bukan makhluk.”
(Asy-Syari’ah hal. 244 no. 217, atsar no. 104, terbitan Muassasah Qurthubah, cet. Pertama tahun 1417 H –pent)
 حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللهِ بْنُ الْعَبَّاسِ الطَّيَالِسِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا بُنْدَارٌ مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْحَمِيدِ الْوَاسِطِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ
 الْمُثَنَّى قَالَ: كُنَّا نَقْرَأُ عَلَى شَيْخٍ ضَرِيْرٍ بِالْبَصْرَةِ، فَلَمَّا أَحْدَثُوْا بِبَغْدَادَ الْقَوْلَ بِخَلْقِ الْقُرْآنِ قَالَ الشَّيْخُ: إِنْ لَمْ يَكُنِ الْقُرْآنُ مَخْلُوقًا، فَمَحَا اللهُ الْقُرْآنَ مِنْ صَدْرِيْ قَالَ: فَلَمَّا سَمِعْنَا
 هَذَا مِنْ قَوْلِهِ تَرَكْنَاهُ وَانْصَرَفْنَا عَنْهُ، فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ مُدَّةٍ لَقِينَاهُ، فَقُلْنَا يَا فُلَانُ مَا فَعَلَ الْقُرْآنُ؟ قَالَ: مَا بَقِيَ فِيْ صَدْرِي مِنْهُ شَيْءٌ، قُلْنَا: وَلَا {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ} [الإخلاص: 1]
 قَالَ: وَلَا {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ} [الإخلاص: 1] إِلَّا أَنْ أَسْمَعَهَا مِنْ غَيْرِي يَقْرَؤُهَا.
Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Abdullah bin Al-Abbas Ath-Thayalisy: telah menceritakan kepada kami Bundar Muhammad bin Basysyar, dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Abdullah bin Muhammad bin Abdul Hamid Al-Wasithy: telah menceritakan kepada kami Abu Musa Muhammad bin Al-Mutsanna dia berkata: “Kami dahulu mengambil riwayat dari seorang syaikh yang buta di Bashrah, maka ketika manusia membuat bid’ah di Baghdad dengan menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, syaikh tersebut berkata: ‘Jika Al-Qur’an bukan makhluk, semoga Allah melenyapkan Al-Qur’an dari dadaku.’ Ketika kami mendengar kesesatannya tersebut maka kami meninggalkannya. Beberapa waktu kemudian kami berjumpa lagi dengannya, maka kami bertanya: ‘Wahai fulan, apa yang terjadi dengan Al-Qur’an?’ Dia menjawab: ‘Tidak ada darinya yang tersisa di dadaku sedikit pun.’ Kami tanya lagi: ‘Walaupun cuma qulhuwallahu ahad?’ Dia menjawab: ‘Walaupun cuma qulhuwallahu ahad, kecuali jika aku mendengar orang lain membacanya.” (Asy-Syari’ah hal. 244 no. 218, atsar no. 105)
Penjelasan:
Dua kisah ini shahih, mungkin ada yang menganggap aneh, tetapi ini tidak aneh dan bukan kisah yang baru. Yahya bin Yusuf Az-Zimmy menceritakan kisah ini, maksudnya diceritakan darinya dengan sanad shahih bahwa syetan mendatanginya di Marwa di sebuah penginapan, sepertinya menyerupai hotel yang biasa untuk singgah orang-orang asing dan para utusan, demikian juga dari jenis ini. Syetan berkata kepadanya: “Engkau tidak takut kepadaku?” Abu Zakariya (Yahya bin Yusuf –pent) menjawab: “Tidak, aku tidak takut kepadamu, siapa engkau?” Syetan menjawab: “Aku Abu Murrah.” Maksudnya dia adalah syetan, yaitu syetan terbesar (Iblis –pent) yang telah dilaknat oleh Allah.
Yahya berkata: “Saya bangkit untuk bersiap menyerangnya.” Ini menunjukkan bahwa dia tegar dan kokoh hatinya, mungkin kalau seorang pengecut dia bisa jatuh dan meninggal karena syetan ada di hadapannya dan dia merasa takut. Manusia biasanya tidak mampu menghadapi jin. Banyak manusia ketika melihat jin mati karena ketakutan. Namun sebagian manusia ada yang jin tidak mampu menghadapi dan mengalahkannya, diantaranya Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu. Tidaklah beliau melewati sebuah jalan kecuali syetan akan mencari jalan lain.
Juga Abu Hurairah radhiyallahu anhu, beliau pernah menangkap syetan yang mencuri makanan (zakat –pent) dan beliau menangkapnya hingga tiga kali tanpa rasa takut. Seorang mu’min yang kuat tidak takut, sama saja kepada jin maupun kepada manusia. Dia tidak takut kecuali kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, apalagi ketakutan yang sifatnya syirik, kita berlindung kepada Allah darinya. Jadi sebagian manusia ada yang takut yang sampai tingkat syirik, seperti takut kepada orang-orang yang telah mati dan takut kepada syetan, kita berlindung kepada Allah dari musibah semacam ini.
Jadi dia tidak takut, tegar dan kuat menghadapi syetan dengan cara seperti ini. Maka syetan berkata kepadanya: “Seandainya aku tahu engkau berada di rumah ini, aku tidak akan masuk dan aku akan tinggal di rumah lain.” Ini bukti yang menunjukkan bahwa syetan dan jin tidak mengetahui perkara ghaib sebagaimana yang Allah firmankan pada kisah Sulaiman:
 فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَن لَّوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ) (سبأ: 14)
“Maka tatkala dia (jasad Sulaiman) jatuh tersungkur, jelaslah bagi syetan bahwa seandainya mereka mengetahui perkara ghaib, niscaya mereka tidak akan terlalu lama berada pada siksaan (kekuasaan Sulaiman) yang menghinakan.” (QS. Saba’: 14)
Juga firman-Nya:
 (هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَن تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ * تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ * يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ) (الشعراء: 221-223)
“Katakanlah: maukah kukabarkan kepada siapa syetan-syetan itu suka turun.  Dia turun kepada setiap pendusta lagi pendosa. Mereka suka mencuri-curi berita dari langit dan kebanyakan mereka adalah para pendusta.” (QS. Asy-Syu’araa’: 221-223)
Mereka para pendusta –baarakallahu fiik– karena suka mencuri berita di awan atau di langit dan menyambar satu kalimat lalu turun dan menyampaikannya ke telinga dukun atau tukang sihir dan menambahinya dengan seratus kedustaan. Yang menambahi ini ada yang mengatakan syetan dan ada yang mengatakan dukun. Yang jelas sama saja apakah dukun atau syetan. Tukang sihir dan dukun mengambil berita bohong dan dusta dari syetan, mereka adalah para pendusta, karena siapa saja yang menyampaikan sebuah ucapan yang dia ketahui itu dusta maka dia termasuk salah seorang pendusta.
Yang jelas syetan berkata: “Seandainya aku tahu engkau berada di rumah ini, aku tidak akan masuk dan aku akan tinggal di rumah lain.” Dia tidak akan tinggal di rumah tersebut. Dia berkata: “Dan ini adalah rumah yang biasa aku tinggali…” Maksudnya rumah yang engkau (Yahya) tinggali ini biasa aku singgahi. Ucapannya: “…Jika aku datang ke Khurasan.” Maksudnya fitnah menyala di sana.
Yahya bertanya: “Engkau datang dari mana?” Syetan menjawab: “Dari Iraq.” Yahya bertanya lagi: “Apa yang engkau lakukan di Iraq?” Syetan menjawab: “Aku mengangkat seorang khalifah di sana.” Khalifah itu bisa juga khalifah yang diangkat oleh syetan. Yahya bertanya: “Siapa dia?” Syetan menjawab: “Bisyr Al-Mirrisy.” Jadi para dai bid’ah dan kesesatan adalah para khalifah syetan. Sedangkan para ulama adalah pewaris para nabi dan khalifah sepeninggal mereka insya Allah. Para dai bid’ah, kebathilan, kekafiran, dan kesesatan adalah khalifah Iblis dan bala tentaranya. Maka hati-hatilah jangan sampai salah seorang dari kalian menjadi salah seorang tentara syetan atau khalifahnya! Kita memohon kepada Allah agar menjaga agama kita dari berbagai fitnah dan bid’ah serta membersihkan kita dari kekuasaan syetan.
Yahya bertanya lagi: “Apa yang dia dakwahkan?” Syetan menjawab: “Meyakini bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.” Satu ini saja merupakan pekerjaan besar bagi syetan, padanya ada peperangan dan khilafah dan lain-lain. Di sana ada berbagi bid’ah besar –kita berlindung kepada Allah darinya– yang sebagiannya diserukan oleh banyak manusia. Engkau jumpai ini adalah satu dari ratusan bid’ah yang dibisikkan oleh syetan, namun yang memilukan mereka (hizbiyun –pent) lebih kuat dan hebat dalam melaksanakan kekhalifahan syetan dibandingkan Bisyr Al-Mirrisy.
Saya pernah mengatakan hal ini kepada sebagian orang-orang yang membela sebagian ahli bid’ah di masa ini, saya katakan kepadanya: “Apa yang menyebabkan kalian membantah Al-Mirrisy dan karena apa dia jatuh (terhina) di mata umat baik yang dari Ahlus Sunnah maupun dari ahli bid’ah?!”
Dia menjawab: “Karena dia meyakini bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.”
Saya katakan kepadanya: “Si fulan ikut andil bersamanya dalam masalah ini dan padanya terdapat ratusan bid’ah yang lain yang besar dan lebih besar dibandingkan ini, kenapa semua itu tidak membuatmu tergerak (marah) sama sekali?!
Lihatlah ya ikhwah, ini adalah kebutaan (hati –pent), kita berlindung kepada Allah dari kebutaan dan kesesatan. Saya berlindung kepada Allah dari bala ini, terlebih lagi ketika bala ini ada pada mereka dalam keadaan mereka mengaku bermanhaj salaf. Tentunya bencana semakin besar dan musibahnya bertambah parah jika para pembela berbagai bid’ah besar mengklaim dan mengaku bermanhaj salaf. Jadi demi Allah ini adalah bencana besar bagi umat. Mereka telah banyak membahayakan diri mereka sendiri dan orang-orang yang dungu dan bodoh yang mengikuti mereka, kita memohon keselamatan kepada Allah.
Syetan berkata: “Dan aku akan mendatangi Khurasan.”
Karena daerah timur ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi was sallam:
 بِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ.
“Di sana muncul tanduk syetan.”(HR. Al-Bukhary no. 1037 dan Muslim no. 2905 –pent)
Jadi di Iraq dan wilayah setelahnya munculnya tanduk syetan. Bid’ah Rafidhah, Khawarij, Mu’tazilah, Jahmiyah dan selain mereka yang diantaranya adalah keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, ini semua muncul tanduknya dari timur, kita memohon kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala agar menghentikan kejahatannya terhadap Islam dan umat Islam.
Yusuf bertanya kepadanya: “Kalau kamu sendiri apa keyakinanmu terhadap Al-Qur’an.”
Maksudnya jika engkau demikian semangat seperti ini dan mengangkat khalifah untuk mengusung bid’ah ini, engkau sendiri apa pendapatmu tentangnya?
Syetan menjawab: “Walaupun aku adalah syetan yang terkutuk, aku meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah dan bukan makhluk.”
Jadi syetan mentertawakan manusia dan menyesatkan mereka, baarakallahu fiik.
 إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ. (فاطر: 6)
“Syetan itu hanyalah mengajak kelompoknya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)
Kita berlindung kepada Allah darinya.
Sebagian dai mungkin ada yang membantahmu dengan mengatakan: “Dia (seorang hizbi atau ahli bid’ah –pent) tidak mengimani hal ini.” Misalnya dia tidak meyakini wihdatul wujud (alam ini hakekatnya hanya satu, jadi makhluk hakekatnya adalah Allah sendiri –pent). Baiklah, dia tidak meyakini wihdatul ujud, tetapi dia menyerukannya! Berarti dia syetan, baarakallahu fiik. Bahkan dia lebih jahat dibandingkan orang-orang yang terjatuh ke dalam bid’ahnya, kalian tahu kenapa?!
Mereka mengatakan kepadamu: “Dia tidak meyakini wihdatul wujud, dia hanya mengucapkannya dan menulisnya, hanya terlanjur bicara dan menulis saja.” Baiklah, tetapi apa yang mendorong dia untuk terus menulis dan memuji orang-orang yang meyakininya dan seterusnya?! Jika dia meyakininya maka dia termasuk mereka, dan jika dia tidak meyakininya maka dia lebih jahat dari mereka. Ini termasuk makar syetan, dia tidak meyakini bahwa Al-Qur’an adalah makhluk tetapi menyerukannya dan semangat melakukannya, demikianlah dalam keadaan dia tidak meyakininya.
Maka jika seseorang misalnya menyerukan sosialisme atau agama Yahudi atau Nashrani serta memujinya walaupun tidak mengimaninya, seperti Paulus yang menyerukan agama Nashrani dalam keadaan dia tidak meyakininya, maka dia lebih kafir dari mereka, padahal dia tidak meyakini bahwa Isa adalah anak Allah atau satu dari yang tiga atau meyakini bahwa Isa adalah Allah sendiri. Dia yang membuat-buat keyakinan ini walaupun dia tidak meyakininya, tetapi dia lebih najis dan lebih kafir dibandingkan orang-orang Nashara.
Jadi demikianlah, orang yang menyerukan bid’ah, sama saja apakah bid’ah yang sampai tingkat kafir atau tidak, maka dia lebih buruk dibandingkan orang yang tidak menyerukannya dari orang-orang yang meyakininya. Kalian faham ini?!
Maka jika ada orang yang mengatakan kepadamu: “Si fulan tidak meyakini wihdatul wujud.” Ceritakanlah kisah ini dan hafallah agar menjadi hujjah yang membantahnya, dan ini adalah kisah yang shahih, kalian paham?

Ditranskrip oleh: Abu Ubaidah Munjid bin Fadhl Al-Haddad, pada Jum’at, 15 Ramadhan 1433 H
Sumber artikel: www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=29449
Diterjemahkan oleh: Abu Almass bin Jaman Al-Ausathy

Sumber :ibnutaimiyah.org

Rabu, 04 Desember 2013

7 Kiat Bangun Shubuh

Bangun shubuh teramat berat bagi sebagian orang. Adakah kiat-kiat untuk bangun Shubuh?
Ada beberapa kiat yang bisa membantu kaum muslimin untuk mudah bangun Shubuh:
1- Takwa dan perhatian dengan waktu shalat.
Orang yang bertakwa tentu akan dimudahkan urusannya termasuk dalam melaksanakan shalat Shubuh. Begitu pula jika seseorang perhatian dengan waktu Shalat, maka itu akan jadi kebiasaan dia. Layaknya anak kecil yang dijanjikan untuk pergi tamasya, tentu saja ia akan bangun sebelum waktu yang ditetapkan meskipun tidak ada yang akan membangunkannya.
2- Tidur di awal malam dan tinggalkan begadang
Ada yang mengetahui dengan detail batas waktu kapan ia harus tidur agar dapat bangun Shubuh. Jika melampaui batas waktu tersebut, ia pasti akan ketinggalan shalat, maka dalam kondisi ini ia tidak boleh begadang hingga melewati batas waktu yang dapat menyebabkanya jatuh ke dalam kelalaian dalam menunaikan kewajiban ini.
Perlu diketahui bahwa begadang tanpa ada kepentingan dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari no. 568)
Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!” (Syarh Al Bukhari, 3: 278).
3- Menggunakan alat-alat pengingat seperti pada jam tangan atau pada handphone.
4- Membiasakan tidur dan bangun di waktu yang sama setiap hari.
Agar terbiasa bangun Shubuh, maka harus dipaksakan di awal dan terus dibiasakan setelah itu. Karena jika sudah ada ritme tidur dan bangun, pasti akan mudah bangun Shubuh meski tidak menggunakan weaker atau alarm.
5- Tidur di alas yang memudahkan proses bangun.
Terkadang seseorang terpaksa harus bergadang karena suatu tuntutan, hingga ia merasa tidak akan dapat bangun pada waktu shalat, maka solusinya adalah dengan merubah alas tidur, misalnya tidur di atas lantai tanpa alas, atau tanpa bantal di luar kamar tidurnya, dan begitu seterusnya selalu melakukan perubahan-perubahan yang dapat mengusir tidur yang nyenyak dan dapat meringankan proses bangun.
6- Menjaga adab Islami sebelum tidur.
a- Tidurlah dalam keadaan berwudhu.
Hal ini berdasarkan hadits Al Baro’ bin ‘Azib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ
“Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu” (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)
b- Tidur berbaring pada sisi kanan.
Hal ini berdasarkan hadits di atas. Adapun manfaatnya sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, “Tidur berbaring pada sisi kanan dianjurkan dalam Islam agar seseorang tidak kesusahan untuk bangun shalat malam. Tidur pada sisi kanan lebih bermanfaat pada jantung. Sedangkan tidur pada sisi kiri berguna bagi badan (namun membuat seseorang semakin malas)” (Zaadul Ma’ad, 1: 321-322).
c- Meniup kedua telapak tangan sambil membaca surat Al Ikhlash (qul huwallahu ahad), surat Al Falaq (qul a’udzu bi robbil falaq), dan surat An Naas (qul a’udzu bi robbinnaas), masing-masing sekali. Setelah itu mengusap kedua tangan tersebut ke wajah dan bagian tubuh yang dapat dijangkau. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dikatakan oleh istrinya ‘Aisyah.
Dari ‘Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata,
كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 5017). Membaca Al Qur’an sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini lebih bermanfaat bagi hati daripada mendengarkan alunan musik klasik sebelum tidur.
d- Membaca ayat kursi sebelum tidur.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
وَكَّلَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ ، فَأَتَانِى آتٍ ، فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – . فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « صَدَقَكَ وَهْوَ كَذُوبٌ ، ذَاكَ شَيْطَانٌ »
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadhan kemudian ada orang yang datang mencuri makanan namun aku merebutnya kembali, lalu aku katakan, “Aku pasti akan mengadukan kamu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam“. Lalu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan suatu hadits berkenaan masalah ini. Selanjutnya orang yang datang kepadanya tadi berkata, “Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al Kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syetan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu setan”. (HR. Bukhari no. 3275)
e- Membaca do’a sebelum tidur “Bismika allahumma amuutu wa ahyaa”.
Dari Hudzaifah, ia berkata,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ « بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا » . وَإِذَا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا ، وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari no. 6324)
Masih ada beberapa dzikir sebelum tidur lainnya yang tidak kami sebutkan dalam tulisan kali ini. Silakan menelaahnya di buku kami sebelumnya Dzikir Pagi Petang yang di dalamnya disertai dengan dzikir sebelum tidur.
7- Meminta tolong pada Allah agar diberi kemudahan untuk bangun Shubuh.
Segalanya menjadi mudah dengan pertolongan Allah termasuk ketika seseorang bertekad kuat untuk bangun Shubuh. Dan tidak mungkin Allah membiarkan do’a kita begitu saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا
“Sesunguhnya Rabb kalian tabaroka wa ta’ala Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya, jika hamba tersebut menengadahkan tangan kepada-Nya , lalu kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa.” (HR. Abu Daud no. 1488 dan Tirmidzi no. 3556. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Hanya Allah yang memberi taufik untuk mudah bangun Shubuh.
Akhukum fillah,
Muhammad Abduh Tuasikal
Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Safar 1435 H (11:45 PM)
http://rumaysho.com/shalat/7-kiat-bangun-shubuh-4817